(Gambar ilustrasi diaambil dari Unsplash.com @ Alexander Grey)
Di ujung malam yang kian sunyi,
Hatiku resah tak bertepi,
Bayangmu hadir di antara mimpi,
Menjelma rindu yang tak terperi.
Bintang berkelip mengurai sepi,
Angin berbisik lirih sekali,
Menyebut namamu dalam lirih hati,
Seakan kau dekat meski tak di sini.
Dinginnya malam memeluk raga,
Namun tak mampu redakan lara,
Sebab rindu tak mengenal logika,
Ia hanya tahu ingin bersua.
Suara detik jam terdengar perlahan,
Menambah gelisah yang terpendam,
Seakan waktu sengaja berjalan,
Memperpanjang rindu dalam kelam.
Kupejam mata, kau datang lagi,
Dalam bayangan yang samar pergi,
Lalu tersenyum, tanpa suara,
Meninggalkan luka yang sama.
Rindu ini bagai angin malam,
Menyentuh lembut lalu menghilang,
Tak terlihat, tak tergenggam,
Namun terasa hingga ke tulang.
Kusandarkan harap pada bulan,
Sampaikan rinduku dalam diam,
Biar kau tahu di seberang lautan,
Ada hati yang tetap setia memendam.
Dini hari kian menjelang,
Tapi rindu tak juga hilang,
Ia tetap tinggal di sudut hati,
Menanti pagi, menanti janji.
Meski jauh terpisah ruang,
Doaku tetap satu arah,
Semoga kelak waktu berkenan,
Menautkan kita dalam dekap indah.
Sampai saat itu, biar kujalani,
Malam-malam sepi dalam rindu ini.
Lampung, 10 Februari 2025
@maskuncoro